Wednesday, November 28, 2018

Piknik Ke Telaga Sarangan dan Tawangmangu


Piknik ke Telaga Sarangan dan Tawangmangu


Dari Kiri ke kakan
Ali DKC, Awang, Risky DKD, Heri Komandan,
 Agung Mantan Ketua Racana, Ali Ubaloka, Said SBH, Pradana SMK 3
Jalan-jalan dengan teman Sarpras Kwarcab Kota Semarang. Sebuah perjalanan Wisata sederhana, bersahaja dengan tujuan bergembira setelah lebih dari satu bulan lamanya bekerja keras memikirkan bagaimana cara agar kegiatan Jambore Cabang Kwarcab Kota Semarang berjalan dengan Sukses. Tetes peluh, dan mata panda menjadi saksi bisu perjuangan teman-teman sarpras.
Maka pagi ini, 12 November 2018, saat nya bergembira. Sejenak melupakan segala duka, lara dan segudang masalah yang ada. Pagi itu, saya dan Heri datang ke Kwarcab dengan mata panda karena memang belum tidur, malam itu  ada kegiatan pelantikan Ambalan Ambalam Malik Fatmawati SMA 6 Semarang. 
Rencana awal, kami  kumpul di Kwarcab Semarang, pukul 04.00 WIB karena jauhnya jarak Semarang-Magetan maka kami harus berangkat pagi. Di kwarcab sudah ada beberapa yang menginap di Kwarcab agar tidak terlambat. Tampak Black (Novi) Sekeluarga, Kak Pomo sekeluarga, Teguh Sekeluarga, Mas Cahyo sekeluarga sudah siapa di sanggar beserta tim sarpras yang lain.
Lama kami menunggu bus yang akan mengantar kami, sudah pukul 05.00 WIB tapi belum nampak, ternyata setelah di telp, bus yang sedianya mengantar kami ternyata rusak, sehingga harus mencari bus cadangan. Akhir nya setelah menungu sekian lama, bus pun datang sekitar pukul 05.15 WIB. Segera kami langsung naik ke bus, menempatkan barang dan mencari tempat duduk. Nampak kecerian dari setiap orang di dalam bus, siap untuk piknik. 
Perjalanan dimulai sekitar pukul 05.45 WIB dari Ngaliyan menuju ke Telaga Sarangan. Perjalan lancar, setiap orang bersuka ria, bernyayi sambil bercerita. Tampak Pula yang sedang berseri-seri Topik Komandan harian ubaloka yang mengajak calon istrinya untuk ikut tamasya, sedang kan saya biasa kursi kosong.. :) tidak masalah... wakakakak....
Perjalanan serasa sangat lama, karena tidak melewati jalur yang biasanya. Ternyata bus nya tidak kuat nanjak sehingga harus mencari jalan lain yang lebih landai. Perkiraan awal waktu tiba dilokasi pukul 10.00 WIB akhirnya tidak tercapai. Kami baru tiba di parkir telaga sarangan sekitar pukul 11.45 WIB, hu hu lumayan,  terpaut sekitar 2 jam. okelah... kita nikmati saja.
Dari TL dadakan dan kurang profesional atas nama Agung Unisula memberikan pengumuman untuk waktu berkunjung di telaga sarangan adalah 2 jam. weleh-weleh 2 jam, padahal kudu perjalanan, salat dan makan. Okelah kita manfaatkan perjalanan wisata ini dengan baik..
Turun dari bus kami bekerja sama membawa seluruh masakan yang sudah disiapkan sedemikian rupa pada malam hari sebelum berangkat oleh ibu-ibu ubaloka dan sekeluarga. Nasi setermos, minum segalon, perlengkapan makan se-box, semangka dll kami usung ke tempat makan, di plataran sebuah hotel di tepian telaga sarangan. 
Perjalan kira-kira  20 menit menuju tempat tersebut, melewati jalan di antara penjual-penjual sovenir. Tiba di lokasi, kami menunaikan ibadah salat duhur, di mushola hotel. huih dingin ternyata air nya, maklum wilayah pegunungan.
Makan Siang
Usai salat, kami makan bersama, inilah piknik yang sebenarnya makan bersama-sama dengan makanan yang kami masak dan kami bawa. sebuah nikmat yang luar biasa. Dengan menu ayam goreng, sambal, lalapan dan teh hangat, sajian yang membuat ingin nambah-nambah lagi, apalagi ada sambal istimewa kiriman dari lombok menambah kesempurnaan siang itu. Makan siang itu saya tutup dengan sate kelinci khas Telaga Sarangan, lumayan Rp 15 Ribu dapat 10 tusuk tanpa lontong. 
Hari Istimewa
Hari tersebut juga merupakan hari yang sangat istimewa, karena 3 orang dari kami merayakan ulang tahun. Black, Topik dan Heri Gendut. Kami memberikan kejutan dengan kue ulang tahun yang sengaja kami siapakan. Mereka bertiga meniup lilin tersebut bersama-sama, tetapi biasa ada tangan-tangan jahil yang sengaja mencorat-coret wajah dengan roti dan coklat, tetapi itu wujud kecintaan kami.


Naik Boat dengan gerombolan Si Berat 
Naik Boat

selesai makan, kurang rasanya ke telaga sarangan tanpa naik boat mengelilingi telaga sarangan. Saya mencari teman yang ingin naik boat, setelah saya tawarkan ada 3 orang yang berminat atas nama Via, Teguh dan Said.  Kami menuju ke tempat naik boat, satu boat dapat dinaiki 4 orang dan biaya satu putarann 60 ribu. Okelah lah kami setuju langsung ke boat yang telah ditunjuk.  kami duduk dengan tenang di kapal boat, kapal melaju dengan tenang...

Ini kali pertama saya naik boat di telaga sarangan, saya kira ya seperti ini lajunya. tetapi ada yang aneh, kenapa kapal yang lain melaju sangat kenceng dan seperti melompat-lompat di antara ombak, sedangkan kapal kami berjalan tenang bahkan cenderung lambat. Saya pun beranikan diri bertanya kepada pak nahkoda (benerkan ya Sopir kapal = Nahkoda). "Pak kok ga kenceng, seperti boat yang itu pak" Saya bertanya. Bapak Nahkoda menjawab dengan raut muka yang besengut "Mas, ini boat dinaiki 4 orang serasa, 8 orang", dalam hati saya mbatin. Weh ternyata benar saja, satu boat dinaiki orang-orang berbobot, saya tidak berani bertanya lagi, sampai turun dari boat.

Naik Boat yang kedua
Diharto ketua Dkc, heri gendut, ali,
Depan Awang
Turun dari boat, saya merasa saya belum mendapatkan sensasi naik boat, dalam hati "saya harus naik lagi". Maka setelah turun saya menacari apakah ada yang mau baik boat lagi ya. ternyata ada Diharto yang belum naik. tak ajak naik, ternyata mau, kurang 2 orang lagi, diharto mencari-cari siapa yang lagi yang belum naik boat, agal lama menunggu ternyata dapat juga, ali belum naik boat dan mau diajak naik boat, hanya bertiga ga maslaah, iurannya berarti tambah dikit. kalo 60 ribu dibagi 4 orang 15 ribuan, kalo 3 orang iurannya 20 ribu. enggak masalah lah. kami bertiga naik ke boat.

Lalu tiba-tiba heri berlari, "mas ikut naik" Kata Heri. Huih huih awalnya sih biasa aja, sampai di tengah baru terasa. Ternyata boat yang kami naiki terasa seperti yang saya naiki bersama via, said dan teguh... lagi-lagi saya hanya bisa menelan ludah melihat keceriaan penumpang boat lain yang seakan-akan boat yang mereka tumpangi dapat menari-nari di antara ombak. Sedangkan boat kami, berjalan lambat diantara ombak.. hus hus..

Perjalanan  ke Tawangmangu 
Taman Balai Kambang
Setelah puas naik perahu dan makan bersama, kami mulai berkemas. Kami lanjutkan perjalan ke Tawangmangu, bus melaju dengan lambat, pelan-pelan melewati tanjakan demi tanjakan. melewati jalan tersebut dalam benak saya bernostalgia pernah jalan dari karangayar sampai madiun, beberapa tahun yang lalu.

Sampai di Tawangmangu pukul 16.00 WIB. kami bersemangat mau mandi di  air terjun. Bergerombol kami siap untuk perang air.. tetapi, ada kabar buruk, ternyata air terjun sudah di tutup pukul 14.00 WIB. kami sudah kesorean.. yah padahal sudah kami rencanakan demikian.
Akhirnya diputuskan kami alihkan ke taman Balai Kambang. karena sudah jauh-jauh ke karangayar,
paling tidak kekecewaan kami terobati dengan miniatur bangunan bangunan keajaiban dunia dan bangunan landmark dunia di Balai Kambang, kami ber swa Foto dan bermaian-main di dalam taman.
 Tiba-tiba saja bresss hujan deras, menghentikan aktivitas  kami. Kami berteduh di bangunan-bangunan yang ada. Setelah agak reda kami menuju ke tempat sovenir. kaos yang di jual bagus-bagus ingin sekali borong, tetapi ingat uang yang di bawa tidak banyak....

Pulang
Pukul 17.30 WIB kami memulai perjalan pulang ke Kota Semarang. kami mampir sejenak di karangayar makan bakso dan meneruskan perjalanan pulang kembali. Di tengah perjalanan kak Aan membagikan doorprize yang telah disedikan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar persiapan dan jalannya Jambore Cabang kota Semarang tahun 2018.
karena lelah kami akhirnya tertidur, sekitar pukul 23.00 WIB kami tiba di kwarcab...
perjalanan yang sangat menyenangkan. terimakasih tim Sarpras Kwarcab Kota Semarang. Itulah Sedikit  cerita perjalanan kami piknik bersama dengan tim SARPRAS KWARCAB KOTA SEMARANG. Kalian Luar biasa....



info jalan-jalan lain

Saturday, June 16, 2018

Warung Ojo Dumeh Kang Sodirin

Warung Ojo Dumeh Kang Sodirin

Warung Ojo Dumeh Kang Sodirin

Kalo berkunjung ke kota semarang, dan hendak mencicipi kuliner yang mewah dengan harga yang murah, Warung Ojo Demeh Kang Sodirin dapat menjadi referensi.
Aneka menu chinese Food : Aneka  masakan bahan dasar ayam, cumi dan udang dengan bumbu koloke, saus metega dan lada hitam dengan rasa bintang lima pokokke mak Nyus. Membayangkan saja bikin lapar. Selain itu masih banyak banget menu yang lain, ada nasi goreng, capjay, cah kangkung dll.
Di Nanda Sedang Menikmati Hidangan

Warung yang dulu ada di sebrang Rumah Sakit Elisabeth ini saat ini pindah di pakintelan, Pertigaan jalan veteran dengan karyadi, tepat tusuk sate. (Pokoknya di Sekitar Rumah Sakit Karyadi tanya orang, pertigaan Kintelan.

Jangan kaget ya kalo sampai di warung ini Anda harus mengambil no antrean, karena memang harus antre dan menungggu dengan tertib.
Kang Sodirin mengolah masakan satu demi satu, sehingga proses nya lama. Ini dilakukan untuk menjaga citarasa. Istri nya yang sebagai asistennya hanya membantu menyiapkan bahan makanan tetapi tidak ikut proses memasak. Satu lagi pak tukang parkir yang juga merangkap pembuat aneka minuman (Es teh, Es jeruk, teh anget, dan jeruk anget)

Ada 3 alasan kenapa harus mampir :
  1. Masakan nya memang enak lezak mak nyus
  2. Porsinya jumbo, sehingga satu porsi bisa 2-3 orang
  3. Harganya sangat terjangkau
Ayam Lada Hitam.. Menu Favorit
Pengalaman 
pada waktu itu saya dan nanda datang kira-kira pukul 20.00 WIB lalu ambil no antre, sudah sampai 63 padahal yang sedang di buat no 48 artinya kami harus antre 15 orang. Ketika kertas menu sudah di depan mata tidak pikir panjang saya pesan ayam lada hitam, nasi dan es teh 2 gelas. Tak apalah kami tunggu kira kira satu jam kemudian baru hidangan yang kami pesan di antar. 
Melihat porsinya wuih istimewa. pokok nya tidak menyesal walau harus nunggu hingga 1 jam. Posidnya sepiring penuh, bisa untuk makan 2-3 orang, tetapi karena lapar saya santap sendiri. Satu Porsi Antara 25 Ribuan, bisa di makan 2-3 orang. Tambah Nasi putih satu piring 4 ribu. Pokokke enak dan murah. berani di adu.

info jalan-jalan lain

Monday, March 5, 2018

Jalan-jalan ke sikunir dengan Ubaloka Kota Semarang tahun 2018

Jalan-Jalan ke Sikunir dari Semarang

Awang jalan-jalan ke Sikunir Dieng
Sungguh akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan pada akhir pekan ini, 3-4 Maret 2018. Saya dan teman-teman Ubaloka kota Semarang jalan-jalan ke Sikunir Dieng.
Sebelumnya, kami bersepuluh (Awang, kak Heru, Adi, Govinda, Evi, Abdul, Supre, Fitri, Galuh, Heri) sudah mempersiapkan perjalanan dan perbekalan yang dibutuhkan, karena memang perjalanan ini sudah direncanakan jauh-jauh hari, tetapi mundur karena kesibukan. Sejak awal, kami merencakan akan berkemah di kaki bukit Sikunir di sekitar telaga cebong, maka dari itu tenda, matras, pasak, tali, kompor dan semua umberampe perkemahan mulai dipacking rapi dan dimasukkan ke mobil Mazda.
Usai belanja mie instan, roti, kopi, susu dan aneka jajan, Pukul 14.30 WIB kami mulai perjalanan dari Kwarcab Kota Semarang (Komplek kecamatan Ngaliyan Semarang), dengan menggunakan 2 mobil, Toyota Avansa dan Mazda. Avansa kami isi 6 orang, sedangkan yang Mazda 4 orang. Rute Perjalanan yang Kami rencanakan yaitu Ngaliyan, Mijen, Boja, Singorojo, Ngarianak, Bejen, Candiroto, Tambi, Dieng.
Dari Ngaliyan, Mijen, Boja, Singorojo, Ngarianak perjalanan kami lalui dengan  mulus, jalan agak bergelombang sampai rusak ketika sampai di daerah Bejen, tetapi setelah sampai di jalan utama Weleri-Parakan  jalan mulus kembali
.
Mobil Mogok
Pukul 16.45 WIB kami istirahat dan menjalankan ibadah Salat Ashar di Candiroto.  Pukul 17.00 WIB kami meneruskan di Tambi. Weh pemandangan pedesaan yang indah, kebun dan perbukitan menemani perjalanan kami. Tetapi ternyata itu tidak lama, cuaca cerah berubah, kabut dan hujan deras menghadang perjalanan kami. Jalanan yang semula mulus pun berubah menjadi jalan yang  terjal dan rusak parah, sampai di Dusun Sikatok  menjelang Perkebunan  Tambi, Mobil Mazda terperosok jalan yang rusak dan  mogok, dicoba si starter ternyata nihil, mesin tidak menyala.  Di tengah hujan deras, tanjakan di jalan yang rusak, ini menjadi cobaan. Mas heru (senior Ubaloka) turun dari mobil Avansa dan berusaha membantu, tetapi Mobil Mazda tetap tidak mau dihidupkan, Indikasi awal adalah Akinya drop.
Setelah mas heru kembali ke Avansa kami putuskan coba untuk di jamper, dengan aki mobil avansa, Di tengah hujan deras, kami bongkar-bongkar mobil. selang 30 menit, akhirnya mobil Mazda bisa menyala, "Alhamdulillah dalam hati, semoga perjalanan lancar", kita lanjutkan perjalanan, tetapi ternyata cobaan belum berhenti, tak jauh dari tempat mogok pertama, Mazda kembali Mogok, tercium bau kampas kopling. Mobil Mazda tidak mungkin untuk meneruskan perjalanan, dengan berat hati mobil Mazda beserta seluruh barang yang ada di dalamnya kita titipkan ke rumah warga, hanya barang pribadi yang kami bawa. Bagaimana pun, perjalanan harus tetap kita teruskan.
Konsekuensi mogoknya mobil mazda adalah seluruh penumpang di sana masuk ke mobil avansa. Mobil avansa harus di isi 10 orang penumpang beserta barang bawaanya. Apakah kuat mobil Avansa ini di isi 10 orang penumpang dan  harus meneruskan perjalanan melewati jalan rusak, dan terjal ?
Beruntung, di tengah kegundahan kami, lewat mobil pickup yang juga terperosok jalan rusak dan selip dikarenakan kurang beban, sehingga ban tidak menggigit jalan, Ibaratnya simbiosis mutualisme kami berlima (adi, Govinda, Heri, Awang, Supre), kami menawarkan menambahkan beban pickup dengan naik di bak belakang pickup, Pickup dapat jalan tanpa takut selip karena ada beban, sedangkan kami bisa nebeng sampai tempat yang landai dan jalan rusak berakhir. Dari baunya, pickup yang kami naiki adalah pickup yang baru mengangkut bawang. Hujan gerimis, dan udara yang menusuk tulang, menemani perjalan kami di bak belakang pickup. Jalan rusak, terjal dan mendaki itulah rute yang kami lewati untuk sampai ke Tambi.
Kami nebeng sampai pos pendakian Tambi, seandainya saja pickup sampai Dieng ya, kami berharap, ternyata hanya sampai Tambi. Wuih coba bayangkan jika tidak ada pickup tersebut,  mobil avansa di isi 10 orang lewat tanjakan terjal dan jalan yang rusak, bisa jadi mobil avansanya jebol juga mesinnya. Sampai Tambi waktu menunjukkan pukul 19.05 WIB kami putuskan untuk istirahat dan salat isya.

Lanjut Perjalanan
Perjalanan kami lanjutkan, tantangannya adalah mobil avansa di isi oleh 10 orang dengan bobot di atas rata-rata, padat berisi, untung jalannya sudah mulus kembali. Sopir kak Heru, Kursi depan kiri 2 orang (Evi dan Fitri), tengah 4 orang  (Awang, Supre, Heri dan Galuh), belakang (Abdul, Govinda dan Adi). Pelan tapi pasti, di tengah kabut dan tanjakan kami berdoa dalam hati semoga aman dan selamat sampai tujuan. Pukul 21.00 WIB tiba lah kami di Dieng, perasaan plong dan perut kosong. Sebelum sampai sikunir kami, mampir di warung untuk makan terlebih dahulu. Nasi goreng porsi jumbo kami santap dengan sangat lahap.
Pukul 22.15 WIB kami sampai desa Sembungan, desa di bawah kaki sikunir dan merupakan desa tertinggi di pulau Jawa. tanpa tenda dan perbekalan (ditinggal di mobil mazda), mau tidak mau kami harus sewa homestay. Bersepuluh kami menginap di homestay, cukup nyaman dengan biaya yang lumayan, 3 kamar (kamar mandi dalam) dengan harga Rp 450.000,00. Suara rintik hujan dan petir, udara yg dingin menusuk tulang, alam seakan membisikkan kepada kami, selamat datang di Sembungan Dieng. Ngantuk, mata tinggal 5 watt tapi sebelum tidur kami harus briefing terlebih dahulu, merencanakan kegiatan besok pagi. Hasilnya kami putuskan pukul 03.30 WIB harus berangkat ke sikunir. Malam itu kami di temani suara dengkuran merdu  saudara heri, ngok ngrok bla bla (mengigau tidak jelas).

Sunrise
Menanti Golden Sunrise, di Puncak Sikunir
Pukul 03.00 WIB alarm-alaram sudah mulai berbunyi (Alaram masing-masing bunyi tetapi ga ada yang bangun) dan mas Heru pun sudah mulai membangunkan kami. Bergegas kami bangun dari mimpi dan mempersiapkan perlengkapan yang akan kami bawa ke puncak. Bersepuluh kami masuk ke mobil kembali dan  langsung meluncur ke telaga cebong.
Pukul 04.00 WIB di telaga cebong, ternyata ruame buanget, bus-bus membawa pengunjung bukan hanya  muda  mudi, orang tua, anak, bapak, ibu, bahkan kakek nenek ternyata juga ada. Aktivitas naik gunung sekarang tidak mengenal usia, siapa saja bisa.
Sebelum kami berangkat kami berdoa, semoga perjalanan kami dimudahkan dan sehat. langkah demi langkah, setapak demi setapak kami berjalanan, awalnya kami melewati deretan toko, memasuki kaki bukit vegetasi mulai berubah kanan kiri tanaman liar, jalannnya sudah bagus, paving blok dan undak-undakan. Ternyata umur tidak bisa bohong, nafas mulai ngos ngosan, pelan tapi pasti anak tangga, demi anak tangga kami lalui. di tengah bukit  ternyata ada mushola, karena belum masuk subuh, kami lanjutkan perjalanan, setengah bukit yang kami lalu adalah jalan setapak, sampai bagian atas bukit ternyata juga ada mushola, wuih keren bro. mumpung sepi kami melangsungkan salat subuh, untuk salat kami membayar iuran Rp 3.000,00 harga yang sangat murah, bayangkan jika harus mengambil air wudhu dari bawah bukit.
Sudut Sikunir
setelah salat kami cari tempat untuk menanti sunrise, sambil menunggu kami keluarkan perbekalan, masak mie dan susu hangat, untuk mengusir dingin nya udara pagi. Di puncak Sikurnir di arah timur kami dapat melihat gugusan pengunungan, terlihat gunung sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, Sungguh pemandangan yang Indah, Tak sabar kami menanti golden Sunrise.  jeprat jepret mengabadikan foto, selfi merupakan kegiatan lain yang kami lakukan. Pukul 05.30 WIB kok matahari belum muncul ya ? Matahari malu-malu muncul karena ada awan di sebelah timur menghalanginya. Perlahan warna langit menjadi kuning kemerahan, tetapi  Oh golden sunrise yang kami nantikan tidak sempurna, matahari sudah meninggi ketika muncul, Sedikit kecewa kami rasakan, tetapi pemandangan yang indah dan udara yang sejuk telah mengobatinya.
Selain spot di bagian timur bukit yang digunakan untuk melihat sunrise, ternyata di sisi barat bukit, kita juga dapat mendapati pemandangan indah, telaga cebong terlihat cantik dari atas bukit. Dari atas Bukit anan kiri sikunir adalah perbukitan, perbukitan yang penuh dengan tanaman kentang. Seakan dimana kaki dipijak di situ ada kebun kentang. Bukan hanya di tempat yang datar, sampai di lereng bukit yang terjal pun, terlihat kebun kentang. Memang di dieng darurat kerusakan hutan karena kentang.



Sikunir Arah barat, Telaga Cebong


Turun Bukit
Pukul 07.00 WIB ketika matahari mulai meninggi, kami putuskan untuk turun. Kami mampir di warung dan menikmati segelas teh hangat dan makanan khasnya, kentang bumbu rendang dan tempe kemul. Harga makanan-minuman di warung menurut saya harga yang wajar dan relatif murah untuk tempat wisata, aneka gorengan Rp 1.000, segelas teh hangat Rp 2.000, dan kentang rendang Rp 5.000. Di sekitar telaga Cebong dan Terminal memang banyak sekali warung yang menjual oleh-oleh khas dieng, seperti carika, aneka kethu (penutup kepala), kaos, bahkan bunga edelwise yang seharusnya di lindung pun ada.
Puas makan dan berfoto, kami kembali ke home stay. Istirahat dan mandi seharusnya aktivitas kami selanjutnya, tetapi ketika puter keran kok airnya  ga mengucur, aih ternyata kerannya mati, kami berusaha mencari pemilik homestay untuk komplain ternyata tidak ketemu, pemilik homestay sedang jualan di telaga cebong, ah sepertinya  mandi hanya mitos. Akhirnya kita tidak mandi, hanya masak dan packing persiapan pulang.
Toto bersepulh Gazebo untuk melihat golden sunrise
Kiri ke kanan (heri, Govinda, Fitri, Supre, Evi, Awang, Abdul, Kak Heru, Adi, Galuh)


Turun dari puncak


Kawah Sikidang
Kawah Sikidang
Pukul 11.00 WIB kami chek out dari homestay, sebelum kami pulang, kami berkunjung ke Kawah sikidang, Biaya masuk Rp 15.000, sampai di kawah sikidang, weh weh penjual masker menawarkan maskernya 1 Rp 2.000, dan Rp 5.000 dapat 3 itu yang mereka tawarkan. jalan masuk ke arah kawah bak seperti pasar oleh-oleh, sebenarnya di sana banyak spot foto tetapi untuk dapat berfoto di tempat tersebut akan dikenakan biaya Rp 5.000,00, kok lagi-lagi duit ya, semua bisa jadi duit di tempat wisata.
Sampai kawah dikidang cuaca ternyata mendung tebal, weh padahal awalnya saya ingin ke puncak agar dapat berfoto dengan background kawah sikidang. ah ya sudah di bawah saja ga apa2, saya tertarik dengan yang jual telur yang di rebus dengan air panas di kawah sikidang. Aneka telur rebus di jual dengan harga yang sama Rp.5.000, pengunjung dapat memilih, telur bebek, ayam kampung atau telur puyuh. Setelah saya rasakan ehm ternyata rasa dan teksturnya sama saja. Sama persis jika di rebus dalam panci.

Pulang
Cuaca yang semakin mendung memaksa kami agar segera pulang. Pukul 13.00 WIB kami tinggalkan kawah untuk pulang. Sebelumnya kami salat di masjid Dieng, ternyata airnya juga mau mati, air kerannya kecil buanget, tetapi aman tetap dapat wudhu walau dengan sabar. Setelah salat kami lanjutkan, tetapi kami sempatkan mampir untuk beli oleh-oleh carika, atas saran saudara Govinda  kami membeli di pusat pabriknya Carika, ehm harganay isi 6 adalah Rp 16.000,00 ternyata lebih mahal dari yang di sikunir. oke ga apa2.
Mobil avansa yang kami gunakan, sepertinya tidak mungkin jika akan kami gunakan bersepuluh sampai Semarang. Overload, dan rasa yang tidak nyaman karena terlalu sempit,  kami harus mengurangi jumlah penumpang, sampai Wonosobo, setelah makan di penyetan Aldan, kami putuskan. saya dan Heri naik bus. muter-puter di terminal Wonosobo cari bus ke arah Semarang. ternyata adanya bus Nusantara, yang tidak masuk terminal. saya dan Heri nunggu di warung bakso depan terminal.
Sekitar pukul 17.00 WIB bus Nusantara yang kami nanti akhirnya datang dan kami berpisah dengan rombongan utama. Masuk bus, kondektur bilang kursi di belakang mas, cari kursi kosong, ehm kayaknya kursinya penuh deh, hanya tersisa 2 bangku kecl di belakang, kursi darurat di atas tangga. Huh nasih-nasib penumpang gelap. Bus melaju, eh baru berjalan 5 menit ternyata bus berhenti istirahat, weh-weh jam berapa nih jika berhenti berhenti gini ya. Wonosobo-Semarang jarak 104 Km, perkiraan 3-4 jam perjalanan yang harus kita tempuh.
pukul 17.30 WIB bus berangkat dari rumah makan, menuju ke Semarang, wuih bus yang saya tumpangi ternyata sopirnya kayak Torreto, benar-benar ngebut, Bus PO Nusantara rasa Sumber Kencono, pokokke minggir, rak minggir tabrak. Pukul 20.00 WIB kami sudah sampai di sukun Banyumanik, padahal perkiraan saya mungkin pukul 21.00 WIB lah paling cepet sampai Semarang.
kami turun di sukun banyumanik, lalu meneruskan perjalanan naik grab ke ngaliyan. pukul 21.00 WIB kami sampai di Kwarcab. Saya kontak teman yang di avansa, ternyata mereka baru di Candiroto menitipkan mobil. weh saya kira bakal datang terakhir ternyata datang pertama.

wuih ini perjalanan yang luar biasa, sikunir-sikunir lain waktu mungkin harus kesana, untuk melihat golden sunrise. Oke demikian pengalaman kami untuk jalan-jalan dengan segala cobaan yang kami lalui. 
Saran saya,  jika hendak ke Dieng naik mobil, dan mobilnya tidak VIT, lebih baik hindari jalan Tambi, memang motong banyak, tetapi spekulasinya dan resikonya terlalu besar. salam 
Jalan-jalan Asik Awang

Tuesday, July 11, 2017

Candi Sukuh, Piramida Suku Maya Indonesia


Candi Sukuh, Piramida Suku Maya Indonesia
Candi Sukuh, Konon bentuknya sangat mirip dengan Piramida milik suku maya di Amerika Selatan
Ini sebenarnya satu trip ketika berkunjung di candi cetho, Candi Sukuh juga berada di lereng gunung lawu, kabupaten karanganyar. Sama Halnya menuju candi cetho, peringatannya adalah kendaraan Anda harus waras dan sehat untuk menuju ke tempat ini. Daripada motor mogok di tengah jalan, lebih baik di service dulu. 
Tiket masuk Rp 7.000, 00 Murah meriah untuk hal yang spektakuler menurut saya. Kenapa ? karena seakan kita seolah melihat piramida suku maya, bentuk bangunan trapesium, tentunya sangat berbeda dengan candi prambanan atau borobudur, tapi menurut saya candi ini benar-benar layak untuk di kunjungi.
eh iya, ketika masuk candi ini, pengunjung juga dimohon untuk memakai kain jarik dan bersikap sopan santun karena tempat ini juga merupakan tempat ibadah agama hindu, 

Referensi lain : Candi Sukuh adalah sebuah kompleks candi agama Hindu yang secara administrasi terletak di wilayah Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar,Jawa Tengah. Candi ini dikategorikan sebagai candi Hindu karena ditemukannya objek pujaan lingga dan yoni. Candi ini dianggap kontroversial karena bentuknya yang kurang lazim dan karena penggambaran alat-alat kelamin manusia secara eksplisit pada beberapa figurnya.

Candi Sukuh telah diusulkan ke UNESCO untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia sejak tahun 1995.
Situs candi Sukuh dilaporkan pertama kali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson kala itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java. Setelah masa pemerintahan Britania Raya berlalu, pada tahun 1842, Van der Vlis, arkeolog Belanda, melakukan penelitian. Pemugaran pertama dimulai pada tahun 1928.
Lokasi candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut pada koordinat 07o37, 38’ 85’’ Lintang Selatan dan 111o07,. 52’65’’ Bujur Barat. Candi ini terletak di Dukuh Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta.


Bangunan candi Sukuh memberikan kesan kesederhanaan yang mencolok pada para pengunjung. Kesan yang didapatkan dari candi ini sungguh berbeda dengan yang didapatkan dari candi-candi besar di Jawa Tengah lainnya yaitu Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Bentuk bangunan candi Sukuh cenderung mirip dengan peninggalan budaya Maya di Meksiko atau peninggalan budaya Inca di Peru. Struktur ini juga mengingatkan para pengunjung akan bentuk-bentuk piramida di Mesir.

Kesan kesederhanaan ini menarik perhatian arkeolog termashyur Belanda, W.F. Stutterheim, pada tahun 1930. Ia mencoba menjelaskannya dengan memberikan tiga argumen. Pertama, kemungkinan pemahat Candi Sukuh bukan seorang tukang batu melainkan tukang kayu dari desa dan bukan dari kalangan keraton. Kedua, candi dibuat dengan agak tergesa-gesa sehingga kurang rapi. Ketiga, keadaan politik kala itu dengan menjelang keruntuhan Majapahit, tidak memungkinkan untuk membuat candi yang besar dan megah.

Para pengunjung yang memasuki pintu utama lalu memasuki gapura terbesar akan melihat bentuk arsitektur khas bahwa ini tidak disusun tegak lurus namun agak miring, berbentuk trapesium dengan atap di atasnya.

Batu-batuan di candi ini berwarna agak kemerahan, sebab batu-batu yang dipakai adalah jenis andesit..

Keindahan Candi Sukuh
Pada teras pertama terdapat gapura utama. Pada gapura ini ada sebuah sengkala memet dalam bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta aban wong ("raksasa gapura memangsa manusia"), yang masing-masing memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 (Saka) (1437 Masehi). Angka tahun ini sering dianggap sebagai tahun berdirinya candi ini, meskipun lebih mungkin adalah tahun selesainya dibangun gapura ini. Di sisi sebelahnya juga terdapat relief sengkala memet berwujud gajah bersorban yang menggigit ekor ular. Ini dianggap melambangkan bunyi gapura buta anahut buntut ("raksasa gapura menggigit ekor"), yang juga dapat ditafsirkan sebagai 1359 Saka.



Gapura pada teras kedua sudah rusak. Di kanan dan kiri gapura terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala yang biasa ada, namun dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak terdapat banyak patung-patung. Pada gapura ini terdapat sebuah candrasangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi gajah wiku anahut buntut yang berarti “Gajah pendeta menggigit ekor” dalam bahasa Indonesia. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi.

Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa panel berelief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan.

Tepat di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang kelihatannya merupakan tempat menaruh sesajian. Di sini terdapat bekas-bekas kemenyan, dupa dan hio yang dibakar, sehingga terlihat masih sering dipergunakan untuk bersembahyang.

Kemudian pada bagian kiri candi induk terdapat serangkaian panel dengan relief yang menceritakan mitologi utama Candi Sukuh, Kidung Sudamala.

Candi Cetho yang Indah


Candi Cetho yang Indah 


Awalnya saya tidak tahu perihal candi cetho, saya baru dari postingan teman-teman di IG, banyak yang memosting foto sedang berlibur ke candi cetho. Kok kayak nya menarik dan rekomendasi untuk di kunjungi. Akhirnya saya pun merencakan untuk jalan-jalan ke tempat tersebut dengan teman-teman.

Perjalanan menuju ke tempat tersebut adalah tantangan tersendiri, apalagi bagi pengendara motor, karena memang jalannya yang menanjak dan berkelok. Jika memang kendaraan Anda tidak kuat jalan di tanjakan, lebih baik urungkan niat Anda. Karena memang jalannya memang sangat menanjak, jika memaksakan diri sangat beresiko motor tidak kuat. Tetapi jika Anda sampai, Anda tidak akan kecewa, pemandangan nya indah dan udaranya sejuk.

Tiket masuk Rp 7.000, bayar di loket, lalu untuk adat di tempat tersbut, pengunjung harus mengenakan kain jarik/batik. Selain sebagai tempat wisata, candi cetho juga sebagai tempat wisata.

Sebelum masuk, kita disuguhi beberapa anak tangga, tidak capek kok, cuma beberapa tetapi ya cukup lah untuk pemanasan, sambil berfoto foto untuk menghilangkan lelah.

masuk ke dalam kita akan di suguhi pemandangan yang eksotis, candi ini memang tak semegah borobudur atau prambanan, tetapi candi ini menyuguhi hal yang lain, bentuk candi yang berundak, pemandangan yang indah dan udara yang sejuk, serta karya seni yang tak terpikirkan.


Referensi lain : Candi Ceto merupakan candi bercorak agama Hindu yang diduga kuat dibangun pada masa-masa akhir era Majapahit (abad ke-15 Masehi). Lokasi candi berada di lereng Gunung Lawu pada ketinggian 1496 m di atas permukaan laut[1], dan secara administratif berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.
Kompleks candi digunakan oleh penduduk setempat dan juga peziarah yang beragama Hindu sebagai tempat pemujaan. Candi ini juga merupakan tempat pertapaan bagi kalangan penganut kepercayaan asli Jawa/Kejawen.
Laporan ilmiah pertama mengenai Candi Ceto dibuat oleh van de Vlies pada tahun 1842[1]. A.J. Bernet Kempers juga melakukan penelitian mengenainya. Ekskavasi (penggalian) untuk kepentingan rekonstruksi dan penemuan objek terpendam dilakukan pertama kali pada tahun 1928 oleh Dinas Purbakala (Commissie vor Oudheiddienst) Hindia Belanda. Berdasarkan keadaannya ketika reruntuhannya mulai diteliti, candi ini diperkirakan berusia tidak jauh berbeda dari Candi Sukuh, yang cukup berdekatan lokasinya.
Ketika ditemukan keadaan candi ini merupakan reruntuhan batu pada 14 teras/punden bertingkat, memanjang dari barat (paling rendah) ke timur, meskipun pada saat ini tinggal 13 teras, dan pemugaran dilakukan pada sembilan teras saja. Strukturnya yang berteras-teras ("punden berundak") memunculkan dugaan akan sinkretisme kultur asli Nusantara dengan Hinduisme. Dugaan ini diperkuat oleh aspek ikonografi. Bentuk tubuh manusia pada relief-relief menyerupai wayang kulit, dengan wajah tampak samping tetapi tubuh cenderung tampak depan. Penggambaran serupa, yang menunjukkan ciri periode sejarah Hindu-Buddha akhir, ditemukan di Candi Sukuh.

Pemugaran pada akhir 1970-an yang dilakukan sepihak oleh Sudjono Humardani, asisten pribadi Suharto (presiden kedua Indonesia) mengubah banyak struktur asli candi, meskipun konsep punden berundak tetap dipertahankan. Pemugaran ini banyak dikritik oleh para pakar arkeologi, mengingat bahwa pemugaran situs purbakala tidak dapat dilakukan tanpa studi yang mendalam. Beberapa objek baru hasil pemugaran yang dianggap tidak original adalah gapura megah di bagian depan kompleks, bangunan-bangunan dari kayu tempat pertapaan, patung-patung yang dinisbatkan sebagai Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V, serta phallus, dan bangunan kubus pada bagian puncak punden.

Selanjutnya, Bupati Karanganyar periode 2003-2008, Rina Iriani, dengan alasan untuk menyemarakkan gairah keberagamaan di sekitar candi, menempatkan arca Dewi Saraswati, sumbangan dari Kabupaten Gianyar, pada bagian timur kompleks candi, pada punden lebih tinggi daripada bangunan kubus.

Pada keadaannya sejak renovasi, kompleks Candi Ceto terdiri dari sembilan tingkatan berundak. Sebelum gapura besar berbentuk candi bentar, pengunjung mendapati dua pasang arca penjaga. Aras pertama setelah gapura masuk (yaitu teras ketiga) merupakan halaman candi. Aras kedua masih berupa halaman. Pada aras ketiga terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Ceto.


Sebelum memasuki aras kelima (teras ketujuh), pada dinding kanan gapura terdapat inskripsi (tulisan pada batu) dengan aksara Jawa Kuno berbahasa Jawa Kuno berbunyi pelling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397[1]. Tulisan ini ditafsirkan sebagai fungsi candi untuk menyucikan diri (ruwat) dan penyebutan tahun pembuatan gapura, yaitu 1397 Saka atau 1475 Masehi. Di teras ketujuh terdapat sebuah tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan kura-kura raksasa, surya Majapahit (diduga sebagai lambang Majapahit), dan simbol phallus (penis, alat kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter dilengkapi dengan hiasan tindik (piercing) bertipe ampallang. Kura-kura adalah lambang penciptaan alam semesta sedangkan penis merupakan simbol penciptaan manusia. Terdapat penggambaran hewan-hewan lain, seperti mimi, katak, dan ketam. Simbol-simbol hewan yang ada, dapat dibaca sebagai suryasengkala berangka tahun 1373 Saka, atau 1451 era modern. Dapat ditafsirkan bahwa kompleks candi ini dibangun bertahap atau melalui beberapa kali renovasi.

Pada aras selanjutnya dapat ditemui jajaran batu pada dua dataran bersebelahan yang memuat relief cuplikan kisah Sudamala, seperti yang terdapat pula di Candi Sukuh. Kisah ini masih populer di kalangan masyarakat Jawa sebagai dasar upacara ruwatan. Dua aras berikutnya memuat bangunan-bangunan pendapa yang mengapit jalan masuk candi. Sampai saat ini pendapa-pendapa tersebut digunakan sebagai tempat pelangsungan upacara-upacara keagamaan. Pada aras ketujuh dapat ditemui dua arca di sisi utara dan selatan. Di sisi utara merupakan arca Sabdapalon dan di selatan Nayagenggong, dua tokoh setengah mitos (banyak yang menganggap sebetulnya keduanya adalah tokoh yang sama) yang diyakini sebagai abdi dan penasehat spiritual Sang Prabu Brawijaya V.

Pada aras kedelapan terdapat arca phallus (disebut "kuntobimo") di sisi utara dan arca Sang Prabu Brawijaya V dalam wujud mahadewa. Pemujaan terhadap arca phallus melambangkan ungkapan syukur dan pengharapan atas kesuburan yang melimpah atas bumi setempat. Aras terakhir (kesembilan) adalah aras tertinggi sebagai tempat pemanjatan doa. Di sini terdapat bangunan batu berbentuk kubus.

Di bagian teratas kompleks Candi Ceto terdapat sebuah bangunan yang pada masa lalu digunakan sebagai tempat membersihkan diri sebelum melaksanakan upacara ritual peribadahan (patirtan). Di timur laut bangunan candi, dengan menuruni lereng, ditemukan sebuah kompleks bangunan candi yang kini disebut sebagai Candi Kethek ("Candi Kera").

Cuci Paru-Paru Di Candi Gedung Songo

Cuci Paru-Paru di Candi Gedung Songo 


Liburan merupakan kata yang paling saya sukai, jalan-jalan dan makan bersama teman-teman. Ini adalah liburan panjang idul fitri 1438 H, kami menyempatkan untuk tamasya ke Candi Gedung Songo. Kami pilih karena tempat nya memang tidak terlalu jauh dari Kota Semarang, tetapi juga kami menginginkan tempat yang sejuk dan berudara bersih. konon, candi Gedung songo adalah salah satu tempat dengan udara terbersih di Asia Tenggara. Sambil jalan-jalan sambil cuci paru-paru. 

Objek Wisata Candi Gedong Songo Semarang merupakan salah satu Objek Wisata di Bandungan yang berupa situs peninggalan umat Hindu yang dibangun pada pertengahan abad 9. Candi ini seperti namanya (songo yang artinya sembilan) sebetulnya terdiri dari sembilan bangunan candi yang tersebar di lereng gunung ungaran namun sekarang hanya tersisa lima buah candi saja.

Candi yang ditemukan oleh seseorang berkebangsaan Inggris bernama Thomas Stamford Raffless pada tahun 1804 ini berada di ketinggian sekitar 1200 meter di atas permukaan laut sehingga suhu udara di area ini cukup dingin (berkisar antara 19-27 derajat celcius) dan sesekali kabut tipis turun dari gunung.

Dari candi ke candi kita tidak akan merasakan lelah selama diperjalanan karena disuguhkan pemandangan alam dengan lereng gunung yang indah serta udara yang sejuk dan menyegarkan. Jadi sangat direkomendasikan sekali bagi Anda yang ingin berlibur bersama keluarga dan orang terdekat.
Candi Gedong Songo terletak di desa Candi kecamatan Bandungan kabupaten Semarang Jawa Tengah. Lokasi candi Gedong Songo dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda motor dan mobil bahkan kendaraan besar seperti bis dengan jalanan yang naik dan kemiringannya sangat tajam (rata-rata mencapai 40 derajat). Diperlukan perjalanan sekitar 40 menit dari Kota Ambarawa atau sekitar 10 menit dari objek wisata Bandungan. Anda juga bisa menggunakan jasa ojek hingga ke pintu masuk area wisata. Dan jangan khawatir dengan kembalinya, karena banyak tukang ojek yang ngetem di depan loket masuk yang siap mengantarkan Anda turun.

Candi Gedong Songo mulai dibuka jam 06.00 dan tutup pada pukul 17.00 wib. Sedangkan harga tiket masuk ke area objek wisata Gedong Songo:
Wisatawan Domestik Rp.6.000,- (Senin s/d Jumat) dan Rp.7.500,- (weekend & libur nasional)
Wisatawan Mancanegara Rp. 35.000,-
Trekking dari candi Gedong 1 hingga Gedong 5 sembari menikmati indahnya pemandangan hamparan hutan pinus yang hijau dan tertata rapi. Anda juga bisa menyewa kuda untuk mengitari candi dari candi pertama hingga terakhir dengan harga yang bervariatif tergantung berat badan, jarak tempuh dan hari berkunjung. Berikut kisaran harganya:
– Wisata Desa Rp. 25.000,-
– Sampai pemandian air panas Rp. 40.000,-
– Sampai candi Gedong dua Rp. 30.000,-
– Paket candi Songo Rp 50.000,-
Di sekitar area wisata, terdapat area camping ground (area perkemahan) yang dapat dijadikan untuk mengadakan kegiatan camping.
Menikmati hangatnya berendam di pemandian air panas yang mengandung belerang yang dipercaya secara klinis dapat mengobati penyakit kulit.
Selain untuk kegiatan wisata, keindahan suasana alam Candi Gedong Songo sering dijadikan sebagai tempat untuk foto Pre Wedding.


Candi II- Candi Gedong Songo

Friday, May 30, 2014

Jalan-jalan Ke Kudus

Wisata Kabupaten Kudus

 
Jalan-Jalan Ke Kudus
Jalan-jalan ke kretek... Ues sudah lama sekali tidak berkunjung ke kota ini. Banyak sekali kisah antara saya dan kota ini. Rencananya hari itu (23 feb 2012) kami akan silahturahmi ke rumah Rifa. Rifa merupakan salah satu rekan  kami di ubaloka kota semarang yang berasal dan berdomisili di  kudus. Siang itu hanya  saya dan gani telah bersiap berangkat. Slayer, sepatu, kamera sudah oke. Si merah siap untuk mengantar kami.  Cek out dari rumah gani kira-kira pukul 11.30 WIB
Belum keluar dari semarang, baru sampai genuk, sudah ada tantangan. Ternyata jalanannya masih tergenang banjir setingg 15-20 cm.. bagus... kembali atau lanjut  ya?.... Berhenti sejenak melihat sekitar.. motor-motor  kok terus ga ada yang berhenti.. oke deh lanjut... tetapi setelah beberapa meter berjalan kok semakin tinggi dan banjir kok semakin dalam. Berhenti sejenak lagi,  kayaknya kalo lanjut artinya bunuh diri deh, melihat banyak motor  yang mogok. Tentu saja si merah ogah menjadi korban selanjutnya. “dik, ono dalan liyane ga?” saya bertanya ke anak-anak yang sedang main air.. “ono mas, mubeng” kata anak kecil itu sambil menunjuk sebuah gang.. eh lanjut atau masuk gang ?... okelah kita putuskan ambil resiko dan mungkin ada harapan.  “Masuk gang”...sekarang sudah di tengah jalan,  tidak ada jalan untuk kembali, walau ternyata bajir semakin dalam dan berlumpur
Huih akhirnya setelah jalan yang berliku dan berlumpur kami menemukan jalan utama, lega rasanya....Si merah kit a lanjut jalan-jalan asoi ke kudus... Perjalan dari semarang menuju kudus lancar tanpa hambatan apapun... Jalannya lurus dan mulus, hanya sedikit berlubang ketika sampai karanganyar perbatasan Demak-Kudus.
Sebelumnya aku udah janjian ma rifa, untuk di jemput di simpang tujuh. Wah wah sudah lama tidak ke kudus ternyata sudah banyak yang berubah. Kotanya semakin ramai, ada hypermart, Ada swalayan, tetapi tetep, kalo ke pom bensin ga tertib. :P
Solat duhur di masjid agung di simpang tujuh sambil nunggu si rifa. Selesai salat,  rifa ternyata sudah menunggu di depan masjid. Perjalanana akan kami teruskan, tetapi baru beberapa meter jalan, baru saja  sampai di depan kabupaten , eeee  ban  belakang malah bocor. Alhasil kudu  ndorong cari tambal ban. Dapat tambal ban di belakang kabupaten, tukang tambal bannya kayak nya bukan orang biasa,aneh sih rumahnya ada banyak  foto nyi roro kidul di dinding. Pakean yang aneh dengan peci yang menutupi rambutnya. Anehnya lagi tukang tambal ban ini mencari titik kebocoran hanya dengan meraba, tidak memakai air atau akat bantu lain.
Sampai rumah rifa langsung bersantap ria, kayaknya sih sudah di siapkan sebelumnya, ada soto kebo, bandeng, aneka gorengan dan krupuk.. nyam-nyam...
Habis makan, waktunya ngrontokin buah rambutan di depan rumah.. nyami, buah rambutan nya manis apalagi yang hijau.. kok bisa ya.. “itu ada doanya mas” kata ibu rifa.. katanya waktu nanamnya berdoa terlebih dalulu agar walau masih hijau sudah manis.. okelah.. ga penting mana yang manis.. pokoknya yang sudah dipetik langsung di santap... he he he he .
Waktunya jalan-jalan.. berkunjung masjid yang menjadi cagar budaya, karena masih berhubungan dengan masjid agung kudus. Di mana itu ya.. pokok nya di daerah menjobo dan loram.. emang bener sih masih ada hubungannya. Ada bangunan yang kayak gapura itu dari batu bata merah. Persis seperti yang dibuat membangun menara kudus.
Setelah jalan-jalan mampir di depan museum kretek, sayang ga bisa masuk karena museum ini tutup jam 16.00. hanya bisa nongkrong di depan museum sambil jajan tempura yang ga jelas itu dan leker. Setalah itu rencananya mau lanjut salat ashar di masjid agung, tapi pas lewat di depan kwarcab kudus ada rame-rame, ternyata emang ada acara Baden Powell day. Ada lomba pieoneering, seminar dan donor darah.. Rame amat ya, beda banget ma kota semarang yang sepi-sepi aja. Puas foto pioneering hasil karya anak pramuka. Emang bagus-bagus dan kreatif kok ... ada yang buat meja, kursi, rak makan, tempat tidur dan yang aneh buat pesawat.. ehm emang buat apa ya.. ya sah-sah aja sih, kan lomba kreasi...
Sebelum ke masjid agung, aku mampir sebentar di rumah arif, rumah yang dulu aku tinggali ketika aku magang di kudus.. ternyata sama rumahnya, sama mengerikan seperti saat aku huni.. mungkin kalo saat ini aku di minta menginap sehari saja di rumah itu, aku berfikir 2 kali ya.. wakakakaka..
Okelah akhirnya sampai di masjid agung. Salat ashar di detik-detik terakhir mau magrib. Setelah salat teringat eh kan belia rumahnya kudus ya. sekalian mampir aja. Setelah mencari tahu di mana rumah belia, rencananya setelah salat magrib kami akan mampir rumah belia.
Ehm rumah belia ternyata ada di daerah pentol, rumah baru di gang 2 , masuk ke kapling baru. Rumahnya gede ya. dari keluarga yang berada.. ya iyalah, belia gitu lo.. orang kaya..
Jam 20.00 kami pulang, karena  rifa sudah di tunggu kakak nya untuk segera pulang, tetapi sebelum kami pulang rencananya mau makan di daerah bitingan, yang jual wedang blung. Ehm tetapi pas sampai sana kok warung nya ga ada. Tutup atau sudah pindah ya, maklum udah lama sekali ga kesana. Tapi ada satu warung rame banget. Apa ini ya ? dari pada ga dapat sama sekali akhirnya kami putuskan untuk mampir...
Yah, ternyata beda, yang jual juga beda. Ternyata bukan warung yang kami tuju. Okelah ga apa-apa.. yang penting perut terisi..nyam-nyam makan nasi kering, teri dan kepala ayam di tambah segelas jahe dengan santan.. di Kudus kalo kita pesan jahe anget, pasti akan di tambah santan kecuali jika kita ngomong dulu. Sudah kenyang kami mau pulang tetapi baru jalan beberapa meter, ban belakang bocor lagi.. aduw.. kenapa bocor lagi.. aduh..
Untung di pojok jalan ada tambal ban... setalah ditambal kami langsung pulang ke semarang.. tetapi sepertinya rasanya ada yang aneh dengan ban motornya, waktu sampai simpang 7 kok sudah ga nyaman. Benar perasaan ku, baru sampai karanganyar ban nya bocor.. bagus.. ini adalah bocor yang ketiga kalinya..
Mana ini ada tambal ban malam-malah kayak gini, ayo semangat mendorong, wakakakak.. semangat deh. Ada tambal ban tapi ternyata tutup. Di ketok-ketok orangnya ga muncul. Tanya orang katanya ada di pasar, jaraknya 3 sampai 4 km lagi, okelah kalo begitu.. huih. Semangat lah pokokke.. he hehehehe. Jalan lagi, dorong lagi, ada seorang yang manggil-manggil, katanya ada tambal ban.. hore.. ternyata tidak disangka di samping warung kecil ada tukang tambal ban. Tapi kali ini tidak di tambal melankan langsung ganti ban. Berharap tidak akan bocor lagi... tapi.. selah kali lanjutkan perjalanana baru 4 km meau memasuki kota demak.. set.. bocor lagi,,,,, huih berarti ini yang ke empat kalinya... Tuing-tuing sehari empat kali bocor.. rekokr rekor.. untung saja di seberang jalan ada tambal ban. Dan artinya tidak perpu mendorong jauh-jauh.. Tapi kudu ngantre 6 motor lagi.. ehm waktu sekitar itu pukul 22.30 karena lama sekali, aku mengambil jas hujan dan istirahat sejenak..
Bangun pukul 00.00 dan si merah belum mendapat penanganan.. antre satu motor lagi.. lima belas kemudian  kemudian.. baru di bongkar. Ternyata memang benar bocor lagi, dan bocornya gede. Harus di tambal, dan perlu di tangani dengan lebih ekstra karena ban dalam yang barusan di ganti kualitasnya ga bagus.. perlu di lindungi denga lapisan ban dalam lain agar kuat.
Sekitar jam satu malah si merah telah selesai, kayaknya emang kudu hati-hati dalam berkendara.. karena emang jalan banyak yang berlubang dan kondisi ban motor sudah sangat memprihatinkan. Saat pulang, super hati-hati. Jalan hanya dengan kec 60 km per jam, huih tak apalah yang penting selamat, maklum badan sudah pegal-pegal. Ehem, ternyata tantangan belum selesai, sampai kaligawe masih banjir. Berdoa, semoga tidak macet. Pelan-pelan tapi pasti akhirnya selamat sampai tujuan. Sampai rumah gani sekitar setengah dua dan sampai mako.. jam 2 kurang sepuluh menit..
Akhirnya selesai juga.. sampai mako saatnya tidur tetapi di tutup dulu dengan makan ayam goreng.. mantap.. terimaksih abdul jasamu tiada tara.. wakakakakak...